Ikea Hacks - DIY Down Pillow

kamar idaman di urbanoufitters.com

Ingin hitz namun gak punya modal besar. 
Sepertinya itulah salah satu masalah utama yang dirasakan kita sebagai generasi muda jaman sekarang (ehem, walaupun saya gak masuk kategori muda – muda banget sih) yang mudah sekali bertukar informasi dengan sekitar. Saya termasuk orang yang sangat tertarik dengan dekorasi ruangan, baik rumah ataupun lainnya. Rasanya gemas kalau lihat barang – barang lucu dan unik yang menurut saya jika dikombinasikan atau bahasa gaulnya mix & match, bisa menjadi sangat menarik.

Cat Cafe-ing

Apa itu Cat Cafe? Cafe buat kucing?
 
Untuk yang kurang awam dengan istilah cat cafe ini, sebenernya adalah cafe biasa dimana kamu bisa pesan makan, minum dan nongkrong sama temen-temen, TAPI didalam cafe nya ada banyak kucing lucu berkeliaran yang bisa kamu ajak main. Walaupun pertama kali buka di Taiwan pada tahun 1998, cat cafe ini malah jadi lebih nge-trend di Jepang sejak awal tahun 2000-an. 

Nah ceritanya minggu lalu itu saya perdana mendatangi salah satu cat cafe di kawasan Bandung Tengah, namanya Cat’s Village. Sebagai pecinta kucing sejati, baru di depan pintu masuknya saja rasanya gak sabar pengen cepet masuk dan culik peluk-peluk kucing didalam. Hahaha..

Cat's Village
Tempatnya terhitung kecil sih, tapi cukup nyaman. Bangunannya terdiri dari 2 lantai, dimana lantai 1 bersifat sebagai cafe saja dan lantai 2 adalah area bermain bersama kucing. Jadi misalnya kamu datang bersama orang yang tidak suka / alergi sama kucing, dia bisa dengan nyaman menunggu sambil pesan makan di area cafe lantai 1. Di area lantai 1 ini juga ada beberapa koleksi buku, majalah dan komik, dan waktu saya datang kesana lagu yang dipasang adalah lagu-lagu Korea kekinian, pokoknya cocok untuk anak muda seperti saya (HAHAHA, MUDA BANGET YA SAYA. TAPI BOONG) maaf capslock rusak.

Area Lantai 1
Koleksi Komik di Lantai 1
Area sofa Lantai 1

Kenapa Brand Lokal Mahal?





(sumber : google)

Saat ini di Indonesia banyak sekali brand lokal bermunculan dan banyak yang menawarkan konsep yang berbeda. Kualitasnya juga bisa dibandingkan dengan merek-merek asing. Tetapi disamping itu saya juga sering mendengar ada orang yang berkata,"brand lokal aja mahal banget sih, mending nambah sedikit beli Z... atau T......p ada merknya daripada pake merk ga jelas".

Yuk kita bahas kenapa brand lokal mahal :

1. Brand local memproduksi dalam jumlah sedikit

Local Brand : Giffa Indonesia 

Local Brand : Motiviga

Local Brand : Lana Fitmat



Kebanyakan brand lokal memproduksi dalam jumlah sedikit bukan mass product. Kalau kalian melihat dress di ITC dengan harga 75.000 atau tas backpack seharga 50.000 mungkin itu adalah produk Cina yang memproduksi secara massal, bisa jadi mereka memproduksi ribuan bahkan jutaan untuk satu model saja.


2. Para pekerja adalah manusia yang harus digaji layak


Jadi proses membuat bahan, mencari bahan baku, menjahit, finishing, quality control bahkan transportasi sampai barang tersebut dijual yang melakukannya adalah manusia bukan mesin. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar untuk keluarganya.

3. Harga bahan baku yang tinggi

Di Indonesia bahan baku kebanyakan masih impor. Kita memiliki Sumber daya alam yang melimpah tapi kita belum bisa mengolahnya, jadi diambil oleh negara lain lalu diolah oleh mereka dan dikirimkan balik ke kita. Dibeli lalu dijadikan produk, otomatis harga bahan baku menjadi tinggi. Belum lagi ada pajak yang dikenakan pemerintah untuk ekspor impor.

3. Hpp yang tinggi membuat harga menjadi tinggi

Dari proses yang sudah saya sebutkan tadi, membuat harga pokok menjadi tinggi dan apabila brand tersebut menitipkan barang di toko. Sekarang ini untuk menitipkan barang di toko offline maupun online dikenakan biaya minimal 30% dari harga jual. Sebut saja misalkan toko The G Dept, toko yang menjadi kiblat mode anak muda indonesia sekarang. Mereka mengambil untung sebesar 50% dari harga jual. Jadi setidaknya para pemilik brand harus mengkalikan 3 dari nilai HPP agar mendapatkan untung. Contoh :

HPP = Rp 100.000
HPP x 3 = Rp 300.000
Yang didapatkan oleh brand tersebut Rp 150.000 
Besar untung = Rp 50.000

Nah harga Rp 300.000 misalkan untuk sebuah atasan akan dinilai mahal oleh konsumen, sedangkan brand mendapatkan Rp 50.000 yang akan dikumpulkan untuk membayar gaji, transportasi, listrik, dan sebagainya.


3. Brand local memiliki kualitas yang baik

(sumber : google)

Para pemilik brand berusaha menjaga barang dagangannya sebaik mungkin agar tetap terjaga kualitasnya mereka tidak mau asal menjual barang tanpa memiliki konsep. Mereka memilih bahannya sendiri serta selalu melakukan quality control sebelum dijual. Bahkan banyak sekali brand besar luar yang mempercayakan produksinya di Indonesia, contohnya, Sepupu saya pernah menitip Jersey bola kepada temanya yang sedang ke Inggris, harganya kurang lebih Rp 500.000 namun setelah dilihat ternyata ada tulisan "made in Indonesia"

4. Produk dibuat dengan cinta

Prelo : Apps untuk Barang Preloved-mu

Setelah menikah dan punya anak, hidup saya berubah.


Selain ritme hidup dan jam tidur, ukuran baju pun berubah. Baju-baju kesayangan saya sebelum hamil dan punya anak tiba-tiba mengkhianati saya dengan menciut tiba-tiba. Hah menciut? iya menciut (padahal sayanya yang bertambah besar, hehehe).  Dress-dress lucu yang tadinya tampak di badan saya dengan sempurna, sekarang dadanya muat saja pun tidak. Sepatu-sepatu high heels yang cantik sekarang terasa menusuk-nusuk tumit. Strap-strapnya terlalu ketat di kaki saya dan membuatnya terlihat seperti leupeut *

Arrgh apa ini? ini pasti sabotase! Saya pikir penyebab dari semua ini adalah Doraemon menyinari baju-baju kesayangan saya dengan senter pengecil secara diam-diam, atau seseorang menyuntikkan ragi ke tubuh saya secara rahasia sehingga badan saya mengembang.

Pusing dengan lebih dari setengah dari isi lemari baju saya yang tidak bisa dipakai, saya mulai mencari cara. Berdiet supaya lebih kurus? jujur, punya anak membuat saya makan lebih banyak dari biasanya. Berolahraga? hmm..apakah dengan mengejar-ngejar anak kecil yang merangkak juga termasuk olahraga? Beli baju baru! Lho, mau disimpan dimana? kan ruang untuk menyimpannya di lemari sudah penuh oleh baju-baju yang "menciut" tadi, hahaha.

Lalu saya memutuskan baju-baju tersebut akan DIJUAL. Dulu sebelum maraknya teknologi, saya sering ikut buka lapak dalam event-event garage sale. Sekarang, dengan bermodalkan smartphone, lapak jualan pun sudah terbuka dimanapun kita berada.