Satu Bulan Bersepeda di Bandung

Beberapa bulan belakangan ini, saya merasa sangat kesulitan menyempatkan diri untuk mengunjungi track lari favorit saya. Entah mengapa, sepanjang tahun ini langit Bandung sedang sangat murah hati mencurahkan hujan hampir setiap sore. Sedangkan untuk menyempatkan diri di pagi hari rasanya cukup sulit karena aktivitas harian saya mengajar yoga biasanya dimulai sekitar pukul 7 pagi.

Dahon Roo
Sumber foto: www.tokosepedanusantara.com

Untungnya, satu bulan yang lalu saya kembali 'dipertemukan' dengan sepeda lipat saya yang lama tersembunyi. Cerita lengkap tentang pertemuan kembali ini bisa dibaca di sini: [link]. Sejak saat itu, sepeda ini sudah menemani saya berjalan-jalan ke berbagai tempat, dan saya pun menemukan alternatif olah raga kardio yang tetap bisa saya lakukan tanpa harus mengusik jadwal harian saya. Bersepeda menjadi moda transportasi alternatif yang menyenangkan.

Sebelum bersepeda, saya biasanya mengandalkan mobil pribadi sebagai alat transportasi. Kalau sedang tidak memungkinkan menggunakan mobil, saya menggunakan layanan ojek online atau angkot. Perubahan ini tentu membawa cerita tersendiri. Dari pengalaman saya yang belum seberapa ini, ada beberapa hal yang membuat bike commuting menjadi sangat berkesan untuk saya:

Bad vs Good



Salah satu topik pembicaraan utama di sekitar saya minggu lalu adalah seputar kemunculan video parodi ini:



Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya teman-teman saya berhasil mengidentifikasi 'oknum' di balik terciptanya video ini. Apalagi, ternyata otak jenius di baliknya masih satu almamater dengan saya, bahkan hanya satu angkatan lebih muda.

Saya sendiri tidak bisa berhenti mengagumi betapa briliannya lirik rap yang dilantunkan oleh Aldi dan Jasmine di video ini. Di hari pertama saya menemukannya, saya memutar video ini on repeat sambil tertawa cekikikan. Saya bahkan rela memutar video ini dalam koneksi mobile data ketika menunjukkannya pertama kali pada suami saya di tengah perjalanan kami di dalam mobil. Apalah arti kuota demi mengapresiasi karya anak bangsa.

Meskipun video versi parodi ini begitu cepat menjadi favorit banyak orang, saya merasa 'kasihan' pada nasib versi orisinilnya:


Terlihat jelas bahwa video ini bukanlah video yang disukai oleh para penontonnya. Angka di samping jempol yang menghadap ke bawah begitu cepat menanjak jika dibandingkan dengan jempol yang mengarah sebaliknya.

Dari hasil analisa otak saya yang kapasitasnya tidak terlalu mumpuni, saya merumuskan 4 hal yang kira-kira menjadi alasan mengapa video parodi Good lebih banyak disukai daripada Bad.

My Favorite Craftswoman: Molla Mills

Sumber: www.helmet.fi

Setiap kali saya diminta menyebutkan nama yang menginspirasi saya untuk belajar merajut, nama Molla Mills pasti tidak pernah lupa saya sebutkan. Meskipun bukan dia yang pertama kali membuat saya tertarik untuk belajar memainkan benang dengan hakken, tidak bisa saya pungkiri, dialah yang paling berjasa memelihara rasa tertarik saya pada kegiatan merajut--terutama pada tapestry crochet.

Pilih Yoga atau Lari, Ya?

Selamat Idul Fitri! :)

Setelah melewati libur Lebaran, biasanya banyak yang bertekad untuk menyehatkan gaya hidupnya. Entah karena ingin mempertahankan angka timbangan yang diraih setelah sebulan berpuasa, karena merasa ‘berdosa’ atas timbunan lemak dan gula hasil bersilaturahim ke rumah tante yang jago masak, atau karena banyak dikomentari oleh paman yang mulutnya jahil. Lebaran jadi seperti kesempatan kedua untuk menulis resolusi menjadi lebih sehat.

Image source: meditatecenter.com

Tentu kita semua sudah paham pentingnya melakukan olah raga untuk menjadi sehat. Dari sekian banyak alternatif olah raga, biasanya ada dua olah raga yang menjadi top choices untuk para wanita: yoga atau lari. Kedua olah raga ini relatif mudah untuk dilakukan karena membutuhkan perlengkapan yang minim. Yoga menjadi pilihan ideal bagi mereka yang menyukai olah raga indoor atau mereka yang kurang bisa menikmati gerakan high impact, sementara lari—sebagai bentuk olah raga yang konon paling sederhana dan murah—biasanya menjadi pilihan mereka yang ingin menurunkan berat badan dalam waktu cepat.

Kalo kamu termasuk yang sedang bingung untuk menentukan pilihan di antara dua olah raga ini, mari simak lebih lanjut ;)

Current #girlcrush: Halsey

Entah mengapa, telinga saya memiliki soft spot untuk lagu-lagu beraliran electropop--terutama yang penyanyinya berjenis kelamin perempuan. Rasanya, lagu-lagu jenis ini selalu terdengar enak untuk saya. Mungkin karena pada dasarnya lagu-lagu electropop memang diciptakan untuk membuat pendengarnya merasa fun, jadi enak banget untuk didengarkan saat di jalan ataupun saat sedang berolah raga. Lady Gaga, The Ting Tings, AlunaGeorge, Emma Hewitt, Ellie Goulding, La Roux, Little Boots, Yelle, adalah beberapa nama yang sering saya ketuk di layar ponsel atau pemutar MP3 untuk menemani saya berkegiatan.

Kegemaran saya pada musik easy listening yang asyik dibawa berjoget ini pun dipahami betul oleh orang-orang di sekitar saya. Tidak jarang, kakak, suami, atau teman-teman saya membuka percakapan dengan kalimat, ‘Eh, ini kayaknya tipe-tipe lagu lo deh,’  ketika berjumpa dengan saya. Dan sebagian besar lagu yang mereka rekomendasikan memang cocok dengan selera saya.

Image source: elle.com

Perkenalan saya dengan Halsey pun diawali dari kejadian serupa. Suami saya lah yang pertama kali memperkenalkan saya dengan Halsey dengan memperlihatkan rekaman live performace-nya yang ini:



Saya pun langsung jatuh cinta.

Manisnya Cemilan, Pahitnya Kenyataan



Setelah berkali-kali mencoba untuk mengatur pola makan alias diet, saya berakhir pada sebuah kesimpulan:

Saya nggak akan pernah berhasil diet selama di Indonesia masih ada mini market.