Japan Trip Part 1


Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan untuk menunaikan ibadah liburan ke negeri sakura. Kalau diperhatikan, entah ini lingkungan sekitar saya atau memang dampak visa Jepang yang gratis (kalau pakai e-passport), atau mungkin malah dampak Andien & Ipeh yang fotonya menarik banget di IG hingga membuat dewasa ini destinasi wisata ke Jepang menjadi salah satu post wajib di social media.

Buat saya, Jepang merupakan negara yang tidak asing budayanya. Bukan karena saya sering kesana, tapi dari saya kecil kartun atau film yang saya tonton asalnya pasti dari Jepang (Nobita, why u no gede2??) dan berlanjut hingga remaja karena terinfluence dengan band seperti L’Arc en Ciel, Malice Mizer, Tokyo Jihen, dll. Mungkin yang di Jakarta pada inget salon Ubud / Firman yang membuat rambut anak muda Jakarta  (termasuk saya) seragam tajem tajem poninya karena terpengaruh model rambut Jepang. Sampai sekarangpun saya masih suka sekali nonton drama Jepang. Hal – hal tersebut memberi saya sedikit banyak pengetahuan tentang gaya hidup hingga sepatah dua patah kata dalam bahasa Jepang.

Nah saya ingin cerita mengenai beberapa pengalaman saya yang ternyata banyakan odongnya selama saya liburan disana. Kebodohan yang awaaal sekali saya sadari ternyata mengenai pemilihan waktu pergi. Saya tau bahwa bulan Agustus, di Jepang ada Obon festival dimana masyarakat berdoa untuk para leluhurnya. Diotak saya, akan banyak orang pakai yukata jalan2, street vendor, kembang api, suara jangkrik, dan keindahan yang biasanya ditunjukin di film-film. Nah yang saya ngga ngeh, ternyata Obon festival ini semacam mudik lebaran buat mereka. Oiya, kebodohan lainnya adalah saya jarang foto –  foto. Maafin ya kalau post ini banyakan tulisan dari foto, anggap aja lagi baca Harry Potter.

Rencana awal saya setelah mendarat di Tokyo ialah ke Hakodate di pulau Hokkaido untuk cari tempat yang dingin dikit. Karena itinerary yg cukup muter2, saya memilih menggunakan JRPass selama disana. JRPassnya saya beli di JTB Aeon Mall serpong karena selain ga kena pajak, setiap pembelian 2 tiket JRPass ordinary (7hari) maka gratis mendapat simcard data plan untuk digunakan selama di Jepang. Untuk saya ini penting banget, dibanding saya sewa personal hotspot (±IDR 550k / 7 hari) yang mana saya kaya bayi kembar dempet ga bs terpisah dari yang lain atau harus bayar biaya roaming Indosat (IDR 149k / hari). Kuotanya juga unlimited, kalau udah lebih dari 200MB sehari, kecepatan cuma turun sedikit. Tetep bisa googling, steaming video, dll. Oiya, karena ini cuma paket data, jadi text / telp hanya via whatsapp, line, skype dll ya.


Nah karena menggunakan JRPass, begitu sampai Haneda saya sambil geret – geret koper langsung mencari counter JR untuk menukarkan voucher keretanya. Prosedur penukaran juga mudah sekali, tinggal isi formulir yang disediakan dan tunjukin passport. Yang penting nama di voucher HARUS SAMA PERSIS dengan nama di passport. Disana juga kita bisa mereserved seat kita di kereta yang akan digunakan. Disinilah kebodohan saya dimulai karena dengan pedenya ga reserved seat dan langsung hepi aja dapat kartu JRPass. Setelah di Tokyo station, berkat kesotoyan kami, langsung ikutin aja dong ya penunjuk arah ke Hokkaido sambil nanya petugas dengan bahasa Jepang seadanya.

JRPass & reservasi bikin nangis
Dibanding 2 tahun lalu, Jepang sudah maju pesat sekali karena hampir semua sign / notification juga beberapa petugas di stasiun besar (Tokyo) sudah dilengkapi dan bisa bahasa Inggris jadi udah jauh lebih enak untuk turis kaya kita. Nah begitu shinkansen tujuan Shin-Hakodate-Hokuto sampai, langsunglah saya melenggang pata – pata masuk ke gerbong dan duduk dengan cantiknya. Orang kursinya banyak yang kosong yakan? Ada sih tulisan reserved di bagian ujung gerbong deket pintu, tapikan kaya di MRT reserved gitu biasanya untuk lansia, ibu hamil, dll kan ya? Aman dong ya? SALAH bapak ibu sekalian! Setelah beberapa station, saya bingung kok ada kerusuhan orang Jepang ngomong sm kondekturnya sambil ngeliatin geng saya yg duduk cantik di kursi empuk shinkansen memandang langit di jendela dan masa depan yang cerah sambil meluk bento yang tadi dibeli di stasiun berasa kaya mau piknik. Akhirnya saya nanya ke kondekturnya (yang sama sekali ga bs bahasa Inggris) ini shinkansen ke Hokkaido kan?, dan beliau menjawab Iya. TAPI yang saya gatau adalah, shinkansen yang saya gunakan ternyata kereta khusus untuk yang sudah me-reserved seat sebelumnya (karena peak season). Jadi tulisan reserved yang ada di ujung gerbong itu bukan untuk lansia ya ternyata hahaha. Setelah pakai bahasa tarzan dan muka kondektur yang udah pengen nangis karena depresi kami ga paham2 walaupun dibantu google translate, kami turun di Omiya station untuk catch another train yang non-reserved seat.
Hayabusa Shinkansen
Setelah turun kami langsung buru – buru nanya ke petugas tentang kereta yang akan kami naikin, tapi pas ditanya pakai bahasa inggris, petugasnya LARI aja dong. Seriously, dia dadah2 bentuk silang didadanya terus lari karena ga bs jawab. Akhirnya kami ke kantor JR untuk reserved seat supaya bisa melanjutkan perjalanan. Sampai di JR office, abang – abangnya bilang ternyata semua kereta FULL saudara – saudara. Baik yg reserved maupun non-reserved apalagi untuk 14 orang karena lg holiday si mudik Obon festival itu. Nangis dong yaa orang orang udah bayar hotel disana, nanya alternative kereta lain walaupun bayar extra gpp, tp disuruh abangnya cancel aja hotelnya (emak lu disko! hangusin 7 kamar hotel) karena menurut doi ga mungkin bisa ke Hokkaido saking semua kereta full hari itu dan besoknya. Akhirnya saya rembukan dengan yang lain dan terjadi kesepakatan kita akan pisah train dan nekat pakai kereta selanjutnya berbekal JRPass tanpa status non-reserved ticket dan juga rela kalau sampai kegep bayar denda atau di kick lg dari kereta. Kenapa kita kaya gitu, karena pengalaman di kereta sebelumnya yang juga dibilang full tp masih banyak tempat kosong dan kami harus ke Hokkaido hari itu juga.

Begitu kereta selanjutnya tiba (Hayabusa), kami ber 8 langsung buru – buru masuk sambil baca alfatihah supaya dimudahkan semuanya. Ternyata di dalam kereta, memang banyak orang yang punya non-reserved ticket dan sudah berdiri di kereta. Karena 3 diantara kami udah sepuh (emak – emak), mereka nyelip diantara 4 seat kosong di kereta sambil doa mudah2an yg booked kursinya ga jadi naik kereta itu. 
Sedangkan sisa 4 lagi, yah silakan dilihat di foto lah ya… Setelah 2 jam berdiri akhirnya kita gakuat dan ikutan gelosor manja duduk di lantai bareng bule sebelah.

berdiri antara gerbong duduk & wc
Sepanjang perjalanan kami udah kaya roller coaster dari nyinyir berasa di Argo Parahyangan, dzikir supaya ga dideportasi kaya ibu – ibu yang motong kain ka’bah, nyelip duduk di kursi yg kosong, sampai bangun buru2 karena udah mau sampai ke stasiun berikut dan takut kursi yg didudukin akhirnya diclaim sama yg punya dan kami dilaporin ke kondektur.


Ditambah lg bete karena ada bule backpacker yang bau ketek (objektif) sebelah kami yang sok romantis (subjektif) banget cium-ciuman sambil bobo di tempat koper padahal kami harus melipir melipir kaya iklan Tropicana slim setiap cart makanan mau lewat atau ada penumpang yang mau ke toilet.


Oiya, sepanjang perjalanan selama 4 jam yang berasa 10 jam itu, kami baru sadar bahwa ga ada satupun penumpang Jepang (non-reserved) yang berdiri yang mencoba untuk duduk di lantai atau duduk di seat kosong. Mereka lebih memilih jongkok (kaya di wc) atau ya gitu aja berdiri walaupun seat sebelahnya kosong karena mereka tau itu bukan hak mereka ga kaya kami yang udah glosoran dilantai. Contohnya eceu ini yang naik di Omiya bareng kami dan sama sekali ga duduk sampai sampai Shin-Hakodate, gatau apa yang dibaca mungkin jurus mati rasa tapi gituuuu aja terus posisinya (dia bahkan ga ke wc atau minum).

Setelah deg – degan kaya apaan tau, akhirnya sampai juga kami dengan selamat tanpa kegep atau dimarahin orang di shin-hakodate-hokuto untuk selanjutnya naik local train ke Hakodate untuk bobo jalan – jalan dan bobo cantik karena besoknya kami harus berjuang lagi naik kereta untuk ke Sapporo. Yang anehnya adalah, 3 kursi (berderet) yang didudukin para sepuh kami dari Omiya hingga Hakodate bener aja dong ga ada yg ngeclaim. Kosoooonggg terus padahal kursi lain terus – terusan silih berganti penumpangnya. Mungkin ini keajaiban alam~ Aku mempercayainya! (bacanya sambil pake nada soundtrack sailor moon ya).

To be continue ya!
-Teh Ebi 


3 comments:

  1. Teh Ebiiiii ngakak banget bacanya gw rusuh abisss lolllll! Ga sabar part 2 nyaaaa!! :*

    ReplyDelete
  2. INI TRAVEL JOURNAL TERKOCAK YANG PERNAH GW BACA!! part 2 pleaaaaseeee....*ketawa nangis*

    ReplyDelete
  3. Iyaa coming soon yaah! Nanti aku cerita ketemu pikachu jadi2an di shibuya sama ojiisan gemes yang berusaha ngajarin bahasa jepang sama huruf kanji di kereta :*

    ReplyDelete